Kenapa Orang yang Marah Harus Berteriak?

jangan marah

Iqrometro.co.id, Ada sebuah kisah yang cukup menarik apalagi ibrahnya bagus untuk kita ambil sebagai bekal dalam menjalani kehidupan kita. Nah, suatu hari ada seorang guru yang sedang mengajarkan soal kesabaran kepada murid-muridnya.

Guru tersebut bercerita dan bertanya terlebih dahulu, ”Kenapa, Seseorang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara yang kuat atau berteriak?”

Mendapatkan pertanyaan yang seolah memang mudah dijawab maka salah seorang siswa pun memberanikan diri menjawab, ”Karena pada saat seperti itu, ia telah kehilangan kesabarannya, karena itu ia lalu berteriak.”

Sang guru pun terlihat tersenyum, artinya siswa paham apa yang hendak diarahkannya, ”Tapi…,” sang guru melanjutkan, ”Lawan bicaranya justru berada di samping atau depannya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”

Mendapatkan balasan pertanyaan lagi, banyak siswa yang satu-persatu mulai menjawab dengan argumen mereka masing-masing. Namun, para siswa masih ragu dengan jawaban mereka sehingga mereka pun menyerah pada guru mereka.

Guru itu pun akhirnya menjelaskan, ”Ketika dua orang sedang dalam keadaan marah, kesabaran mereka telah hilang, jarak antara kedua hati mereka menjadi amat jauh, walau secara fisik mereka amat dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang jauh tersebut, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, jarak hati mereka semakin jauh, karena itu mereka semakin mengeraskan suaranya, dan semakin keras lagi.”

Hati yang semakin jauh, maka lisan harus semakin berteriak untuk menjangkaunya agar suaranya kedengaran. Sang guru bertanya kembali, ”Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang yang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, sekecil dan sehalus mungkin ucapan mereka, keduanya pasti bisa mendengarkannya dengan jelas. Mengapa demikian?”

Kini, mendapatkan pertanyaan itu lagi, para murid pun tak ada yang berani menjawab dan menunggu sang guru menjelaskan kembali, ”Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya, sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja, amatlah cukup memahami apa yang ingin mereka sampaikan.

Nah, pahamlah dari kisah singkat diatas bahwa bisa jadi kita memang marah, namun hati kita jangan membuat jarak. Jika kita terus mengikuti hawa amarah kita, hati kita akan terus menjauh, apapun yang dijelaskan tak akan sampai ke hati kita. Ucapan apapun juga akan butuh jarak yang jauh agar kita bisa meresapinya.

Jadi, hati kita ini harus ikhlas dimulai kapanpun, sehingga jika ada jiwa kita yang mengeluh dan marah, maka serahkan pada Allah swt. Apapun keadaan kita memang sudah digariskan Allah sehingga kita bisa sabar dan menjauhi amarah dengan mudah.

Bisakah kita menerapkan apa yang selalu kita ucapkan selaku umat Islam, selaku Mukminin, ”Katakanlah, ’Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.” (QS. Al-An’am : 162).

Jika kita memang milik Allah swt, tak perlu mengeluh dan marah pada orang lain karena sejatinya itu semua ujian untuk menguji kesabaran kita.

jangan marah
janganlah marah

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.