“Little Candle”

Believe me, I was a candle
I was a little candle
I want to be a candle in your life
Although I know…
I will be destroyed in a few minutes
But I’m willing to give a little light means in your life…
Even though you’re not with me……

Aku adalah lelaki berusia 25 tahun.Aku baru saja menyelesaikan program strata satu di salah satu perguruan tinggi di kota ku. Lumayanlah IPKnya 3,29. Aku bisa dikatakan anak yang pandai di kampusku. Memiliki badan tegap, tinggi, dan rambut cepak. Itu semua membuat para kaum hawa terpana ketika melihatku.
Aku sebenarnya anak orang berada. Ayahku pengusaha kaya yang memiliki banyak perusahaan. Sedangkan ibu angkatku pengusaha batik di salah satu kota yang kami pilih untuk usaha tersebut.
Semua kebutuhanku selalu tercukupi tanpa harus bersusah payah. Tinggal minta saja sama orang tua maka semua segera terwujud. Apalagi ayahku sangat sayang terhadapku. Maklumlah aku anak satu satunya di keluargaku.
Tetapi semua itu justru membuatku untuk tidak bermanja-manja dengan segala kelebihanku. Aku memustuskan untuk melamar pekerjaan di salah satu koran yang cukup terkenal di kotaku. Dengan sedikit modal bisa menulis cerpen dan opini, ku coba untuk mengirimkan surat lamaranku ke kantor koran tersebut.
Pada tes wawancara aku ditanya tentang kemampuan menulisku. Memang sih aku belum banyak pengalaman menulis secara resmi di media masa, tetapi di lap top ku sudah banyak file tulisan yang ku simpan dari hasil perenunganku setiap malam. Maklumlah aku suka menulis jika malam telah tiba.
Malam itu bagiku bagaikan kupu-kupu yang indah yang akan menginspirasi kehidupanku dengan warna-warninya. Dia mampu terbang bebas tanpa ada aturan yang mengikat. Dan merupakan suatu keindahan dari suatu proses penantian panjang yang sempurna tanpa ada manipulasi.
Hari yang ku tunggu-tunggu telah tiba. Dimana pengumuman terpampang jelas di depan kantor koran tersebut. Dengan perasaan yang dak-dik-duk, kuhampiri pengumuman tersebut. Sambil bersusah payah karena maklum banyak yang melihatnya, akhirnya bisa juga aku berada di depan pengumuman tersebut. Tak disangka dan tak di duga ternyata aku di terima kerja di koran tersebut sebagai editor pada kolom opini. Senang sekali rasanya aku, akhirnya aku mampu hidup mandiri tanpa harus berpangku tangan lagi dengan orang tuaku.
Segera ku kabari ayahku tercinta.
‘Pah…, akhirnya aku diterima kerja di salah satu koran terkenal di kota kita Pah….’
‘Dasar kamu itu anak yang susah diatur, padahal Papah sudah menyiapkan posisi di salah satu perusahaan Papah’
Memang begitu ayahku sangat sayang sekali kepadaku. Akhirnya di membolehkanku untuk bekerja di koran tersebut, tapi tetap dengan pengawasannya.
Pertama kali kerja aku terasa asing sekali dengan suasana dan kawan-kawan kerjaku. Maklumlah aku sebenarnya anak yang susah bergaul dari dahulu.
Hari demi hari aku bekerja di kantor tersebut akhirnya aku terbiasa juga dengan suasana di kantor itu. Mulai saling sapa dengan sesama rekan kerjaku. Dan yang paling akrab dengan Pak Muasim. Dia adalah salah satu Office Boy di kantorku. Dia selalu menawariku makanan dan minuman sebagai pelepas lelah ketika waktu istirahat tiba. Maklumlah biasanya orang-orang di kantorku kalau memesan makanan dari luar langsung sama Pak Muasim. Hitung hitung sambil sedekah sama dia.
Ternya kerja di sebuah media massa seperti koran itu mengasikkan juga. Selain bisa menulis kita juga akan lebih banyak ilmu pengetahuan. Karena setiap hari selalu ada info-info baru yang ku dapatkan.
Hingga suatu saat datanglah seorang wanita yang bernama Lilian. Bu Lilian aku memanggilnya. Maklumlah dia terlihat lebih senior dariku, walaupun dia baru di kantorku.
Ternyata benar adanya. Bu Lilian itu telah berumur 39 tahun, walaupun dari segi tubuh masih terlihat seperti anak 25 tahun. Tinggi dan anggun ketika berjalan. Pesonanya begitu terlihat di wajahnya. Sopan, ramah dan sangat berwibawa.
Bu Lilian adalah supervisor koran kami. Dia di pindahkan dari salah satu koran yang merupakan induk dari koran tempat ku bekerja. Di sana katanya beliau merupakan supervisor yang handal, dan diharapkan akan menambah greget di koran yang kami kelola.
Memang benar adanya. Ketika mempresentasikan suatu materi beliau sangat terlihat cerdas dan pandai. Dengan bahasa yang lugas beliau berbagi ilmu dengan kami yang belum banyak mengerti dan masih butuh arahan.
Pada suatu hari aku dan Bu Lilian bertemu dan berbincang panjang. Biasalah beliau memang sering begitu dengan anak buahnya. Sehingga lebih akrab antar kami.
Bu Lilian menanyakan asal usulku. Akupun memberikan info mengeai diriku. Mulai dari nama ayahku, ibuku (walaupun ibu angkat), dan kakek nenekku. Ku beritahu alamat tempat tinggalku, usaha ayahku sampai riwayat pendidikanku.
Bu Lilian pun mulai serius ketika menanyakan asal-usul keluargaku. Sepertinya dia mulai tertarik untuk mengorek lebih jauh. Bahkan dia menanyakan riwayat pendidikan ayahku dan bagaimana rahasia kesuksesan ayahku. Dia pun terheran-heran dengan aku, mengapa mau memilih susah payah bekerja di media masa, sedangkan ayahku adalah pengusaha yang sukses.
Dia juga menanyakan apakah ayah dan ibuku sayang kepadaku. Bagaimana orang tuaku memperlakukan diriku setiap harinya. Sampai akhirnya tidak terasa waktu istirahatpun telah usai, sehingga aku harus bersiap untuk bekerja lagi.
Di lain hari. Pada waktu itu masih pukul delapan pagi. Aku datang dengan terburu buru. Maklumlah aku datang terlambat, karena aku bangun kesiangan tadi malam nonton pertandingan sepak bola sampai larut malam. Sampai-sampai aku lupa sarapan. Tetapi ada yang membuat aku terkejut, ternyata di atas meja kerjaku sudah ada sepiring menu sarapan bubur ayam yang merupakan favoritku. Sontak saja aku menanyakan ke Pak Muasim.
‘Pak sapa tadi yang taruh bubur ayam di mejaku?’
Kata Pak Muasim: ‘O… itu, tadi bu Liliiana yang taruh itu di mejamu’
Aku lebih terkejut. Apa maksud semua ini. Padahal kami baru saja saling mengenal. Mana mungkin bu Liliana tertarik kepadaku. ‘Ah….mana mungkin’ dalam hati aku berbisik. Seandainya ia, pastilah aku yang menolaknya. Karena dia jauh lebih tua dariku, bahkan aku menganggapnya sebagai guruku.
Hari demi hari berganti, hingga suatu saat aku jatuh sakit. Dan untuk beberapa hari tidak bisa masuk kantor. Dan yang anehnya bu Liliana selalu meneleponku untuk mengingatkanku agar jangan lupa meminum obat. Bahkan karena terlalu perhatiannya dia pun mengirimiku buah-buahan dan multivitamin untuk aku konsumsi. Semua itu diantar langsung ke rumahku oleh pak Muasim. Aku semakin terheran-heran. Ada apa dengan bu Liliana? Mengapa dia sangat baik kepadaku? Apakah benar dia menyukaiku?
‘Gila sungguh gila sudah dunia ini, mana mungkin aku akan tertarik dengan wanita yang lebih tua dariku’ batinku pun mulai meronta.
Hingga akhirnya aku sudah sembuh dari sakitku. Akupun mulai aktif kembali di kantorku. Namun kali ini aku mencoba untuk lebih datar dan bahkan lebih kejam dari biasanya. Makanan yang sering di beri oleh bu Liliana mulai aku buang ke kotak sampah. Telepon yang biasanya berdering dari bu Liliana sudah mulai aku abaikan. Aku berpikir jika memang tindakanku ini salah maka aku akan siap menanggung segala resikonya. Bahkan sampai resiko terburuk pun aku siap menerimanya.
Aneh sungguh aneh. Dari sikap yang telah aku rubah itu justru malah bu Liliana lebih intens memperhatikanku. Dia justru malah terus memberiku semangat untuk tetap bekerja lebih baik lagi. Walaupun aku telah berbuat kasar terhadapnya. Bahkan pada suatu kejadian bu Liliana memanggilku ketika kami berpapasan, aku pun tidak menghiraukannya, aku tidak peduli dengan panggilan itu. Aku pun berlalu begitu saja melewatinya.
Aku berpikir, cinta macam apa ini? Haruskah aku keluar dari pekerjaanku demi untuk meninggalkan bu Liliana. Sampai suatu saat ku beranikan menghampirinya dan berkata kasar:
‘Bu!? Aku ini masih muda, mana mungkin aku tertarik kepadamu yang jauh lebih tua dari ku’
‘Sudahlah…jangan ngarep, gak mungkin….gak mungkin……’
Tapi apa yang terjadi, bu Liliana pun hanya tersenyum dan berkata: ‘Maafin aku ya kalau aku punya salah’
Semakin aku tidak mengerti semua ini.
Hingga ke esokan hari aku mendapat kabar dari SMS pak Muasim, yang mengabari bahwa bu Liliana meninggal karena kecelakaan. Mobilnya menabrak pohon besar hingga akhirnya nyawanya tak tertolong. Sungguh betapa terkejutnya aku mendengar berita itu. Orang yang selama ini baik kepadaku dan justru aku selalu jahat kepadanya sekarang sudah meninggal dunia. Bahkan karena terlalu depresinya aku menghadapi semua ini akhirnya kuputuskan untuk keluar dari pekerjaanku itu. Itu semua demi menghilangkan memori-memori pahitku selama ini.
Akupun kini banyak di rumah berdiam diri. Banyak membaca buku sendiri di rumah, dan melakukan aktifitas sendiri di rumahku. Hingga suatu saat aku menemukan sebuah buku yang sudah usang. Ku coba mebersihkannya dan membukanya. Kubaca-baca lembar demi lembar dari awal. Ternyata itu buku diary ayahku. Ada satu hal penting dari buku itu yang kudapatkan. Ternyata di buku itu tertulis bahwa ibuku itu bernama Liliana Putri. Di buku tersebut tertulis bahwa ternyata istri pertama ayahku itu Bu Liliana, dan jelas di situ tertulis ciri-ciri yang sama dengan orang yang pernah aku kenal yaitu Bu Liliana. Mereka berdua terpisah di waktu aku masih berusia delapan bulan. Mereka terpisah karena perbedaan prinsip hidup. Perbedaan agama yang dianut kedua orang tua mereka berakibat fatal terhadap kelangsungan hubungan rumah tangga ayahku. Sungguh miris benar adanya, cinta mereka terpisah hanya karena perbedaan prinsip agama yang mereka percayai.
Namun dalam diri ini terucap maaf yang sangat dalam. Ingin rasanya aku memeluk ibuku kandung sendiri, seperti layaknya anak-anak lain yang hidup bahagia dengan orang tua asli mereka. Sekarang baru kusadari mengapa yahku sangat menyayangiku dan ibu angkatku terasa biasa saja dalam menyayangiku.
Diri ini pun berteriak lembut dalam hati:
“Maafkan aku Little Candle, semoga Tuhan mengampuni segala kesalahanmu, dan semoga kelak kita dipertemukan kembali dalam nirwana yang abadi”

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply