Usaha Genteng Pak Said Lampung Tengah

Pengusaha Genteng
Genteng merupakan salah satu komponen penting dari rumah. Karena keurgensian genteng inilah yang akhirnya membuat sebagian orang menjadikannya sebagai peluang usaha. Salah satunya adalah warga di Dusun 9 (Semarang), Desa Gaya Baru III, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung yang berwirausaha memproduksi genteng. Salah satunya adalah Pak Nursaid dan Bu Zaituni, yang sering disapa dengan nama Said dan Tuni. Keduanya merupakan sepasang suami istri yang menekuni usaha ini sejak tahun 1993. Pada mulanya usaha ini adalah milik orang tua bu Zaituni, kemudian pak Said dan bu Tuni melanjutkan usaha tersebut hingga sekarang.
Mereka memilih usaha ini karena masih terhitung lumayan sebagai pendapatan. Pak Said dan bu Tuni juga bisa membiayai anaknya melanjutkan ke jenjang pendidikan kuliah. Selain itu usaha genteng ini juga membuka peluang usaha bagi warga sekitar, yaitu dengan ikut bekerja dalam proses pembuatan genteng. Bahkan dalam satu kali pembuatan membutuhkan 4-7 orang pekerja. Hal ini tentunya dapat mengurangi angka pengangguran di desa Gaya Baru III, dan menjadikan mata pencaharian warga. Itulah alasan pak Said dan bu Tuni tetap menekuni usaha pembuatan gentengnya ini.
Pembuatan genteng membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar dua minggu hingga siap dijual. Hal ini dikarenakan dalam pembuatan genteng memerlukan beberapa tahapan, diantaranya sebagai berikut:
– Pertama, diawali dengan penggalian tanah liat sebagai bahan utama pembuatan genteng.
– Kedua pengangkutan, yaitu tanah liat dipindahkan ke tempat pelembutan.
– Ketiga proses pelunakan, yaitu tanah liat yang telah dipindahkan dibasahi dan dilunakkan.
– Keempat penggilingan dengan mesin yang disebut dengan molen, dalam tahap ini tanah liat yang lunak digiling agar menjadi kueh. Kueh yaitu tanah liat yang telah digiling berbentuk kotak.
– Kelima pencetakan, proses ini menggunakan alat press untuk mencetak kueh yang nantinya menjadi genteng.
– Keenam adalah proses penjemuran, dalam tahap ini penjemuran dilakukan dua kali, yang pertama di rak yaitu setelah proses pengepresan, kurang lebih selama satu hari. Kemudian penjemuran di halaman yang terkena cahaya matahari, hingga genteng benar-benar kering.
– Terakhir adalah pembakaran, genteng yang telah kering kemudian dibakar di tempat pembakaran atau tobong. Pembakaran ini membutuhkan waktu sekitar satu hari satu malam, tetapi tergantung juga dengan jumlah genteng yang akan dibakar. Setelah pembakaran selesai, maka gengteng siap dijual.
Dari usaha ini pak Said dan bu Tuni dapat memiliki pengahasilan murni 3-4 juta perbulan, yaitu dengan mampu melakukan dua kali penjualan dalam satu bulan. Penghitungan untuk harganya adalah 1000 biji genteng dengan harga Rp. 1 juta, artinya perbiji genteng dijual dengan harga Rp. 1000. Pendapatan mereka akan semakin cepat, jika semakin banyak pembeli dan cuaca yang mendukung agar proses pembuatan genteng dapat berjalan lancar. Sampai saat ini genteng masih menjadi salah satu ikon dari masyarakat dusun 9, desa Gaya Baru III, Lampung Tengah.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply