Kesenian Kuda Lumping Paguyuban Setio Darmo: Kota Metro

“Kesenian Tradisional Paguyuban Setio Darmo”

Kesenian tradisional kuda lumping adalah sebuah kesenian yang dipentaskan dengan dengan menggunakan alat yang berbentuk seperti kuda yang terbuat dari anyaman bambu. Kesenian kuda lumping biasanya ditampilkan dengan atraksi-atraksi yang berbahaya, seperti makan pecahan kaca, bara api yang masih merah menyala dan memakan sasajen berupa bunga kantil, melati dan sejenisnya. Para pelaku atraksi tersebut tidak menyadari apa yang sedang dilakukannya karena mereka dalam keadaan tidak sadar atau dirasuki makhluk halus. Sehingga dalam pandangan masyarakat kesenian ini merupakan kesenian yang bersifat mistis. Seperti di daerah Kota Metro tepatnya 15b timur ini contohnya, di sana terdapat sebuah kelompok kesenian kuda lumping yang bernama “Paguyuban Setio Darmo”. Kelompok paguyuban ini berdiri sejak 2 tahun yang lalu pada tanggal 11 Januari 2014, yang terdiri dari 30 anggota. Diketuai oleh bapak Sugito. Sekertaris: Suwarto, Bendahara: Norna Ningsih, Koordinator: Pebri Adi Saputra, dan Humas: Adistia Bayu Pratama. Dalam pertunjukannya mereka juga menampilkan atraksi dan tarian pada umumnya akan tetapi memiliki ciri khas yang berbeda yaitu Tari Keroyokan. Tari keroyokan ini terdiri dari 5 orang. 4 dari orang tersebut menggunakan kuda kemudian mengelilingi 1 orang yang disebut barong.
Dalam pertunjukan kuda lumping ini biasanya dikawal oleh beberapa pawang atau dukun untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebelum pertunjukan dimulai biasanya ada ritual yang dilakukan oleh para dukun yaitu memberikan sesaji dan membacakan doa agar dijauhkan dari mara bahaya. Selain melakukan ritual, dukun juga ditugaskan untuk mengawal atraksi agar lebih aman. Kostum yang digunakan dalam pertunjukan kuda lumping biasanya adalah baju lengan panjang atau pendek, namun ada juga yang menggunakan rompi, bahkan tidak memakai baju (khusus kaum laki-laki). Property yang digunakan dalam pertunjukan adalah kuda kepang, namun setiap bagian penari berbeda-beda. Untuk penari wanita pada bagian pertama biasanya menggunakan selendang, karena yang diutamakan pada bagian ini adalah tarian para penarinya. Untuk penari pria biasanya menggunakan property pedang, seolah-olah sedang berada di medan perang mereka dengan gagah berani memacu kuda mereka. Kesenian kuda lumping ini biasanya sering tampil di acara khitanan sampai pernikahan.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply