Batik Kota Metro: Batik Walet

Kisah perjalanan batik walet Kota Metro memang masih belum diketahui sumber asalnya dengan pasti. Namun ada sebuah cerita rakyat yang bila dihubungkan bisa menjadi referensi lahirnya batik walet. Kisah itu berawal dari sebuah keluarga bapak Mitro dan istrinya, sebut saja ibu Mitro, yang tinggal di pusat kota, yang mungkin sekarang lebih dikenal dengan taman merdeka. Dahulu kala keluarga bapak Mitro merupakan penjual pecel uleg yang sangat terkenal dan laris sekali. Pecel yang dibuat oleh bu Mitro sangat disukai oleh para pelanggannya. Dimana pelanggannya berasal dari peduduk sekitar tempat mereka tinggal dan banyak juga dari luar daerah. Lokasi tempat berjualan yang sangat strategis karena terletak di jalur lintas mobil-mobil pengangkut hasil bumi baik dari ujung Sumatra maupun dari Pulau Jawa. Pecelnya murah namun porsinya sangat banyak, sehingga banyak pelanggan yang sangat senang datang ke warung pak Mitro. Dengan hanya sedikit mengeluarkan uang mereka sudah dapat makanan yang mengenyangkan.
Keluarga pak Mitro merupakan keluarga yang cukup bahagia kehidupannya. Mereka dikaruniai dua orang anak kembar yang bernama Hasan dan Husein. Kehidupan ekonominya juga bisa dikatakan lebih dari cukup. Selain berjualan pecel, pak Mitro juga merupakan petani dengan luas sawah yang sampai 2 hektare. Maklumlah zaman dahulu tanah hak milik para penduduk luas-luas. Ada yang mengisahkan untuk mendapatkan tanah yang luas kepala rumah tangga cukup melempar batu sejauh mungkin mereka mampu melempar, maka sejauh itu luas tanah yang bisa mereka miliki.
Pada suatu hari bu Mitro mengalami sakit yang dirasa aneh karena tidak ada obatnya. Tubuh bu Mitro serasa lemas dan tidak sanggup untuk berjalan sebagai mana mestinya. Akhirnya pak Mitro pun membawa istrinya ke ahli pengobatan atau seorang tabib, maklumlah zaman dahulu belum ada dokter. Sang tabib pun berkata bahwa sakit bu Mitro tergolong langka dan belum ada obatnya. Kemudian pak Mitro tidak patah semangat, dibawalah istrinya ke seorang kiyai yang ada di daerah tersebut. Sang kiyai pun menyimpulkan bahwa sesungguhnya penyakit bu Mitro bukan karena ada gangguan dari orang jahat atau semacam santet, melainkan memang murni dari dalam tubuh bu Mitro yang mana ada disfungsi dari organ-organ tubuhnya. Setelah itu pak Mitro pun masih berusaha untuk menyembuhkan istrinya dengan membawanya ke seorang dukun yang merupakan seorang sesepuh di daerah tersebut. Sang dukun pun terheran-heran dengan penyakit yang dialami oleh bu Mitro. Menurut sang dukun penyakit ini merupakan sebab musababnya sangat tidak jelas dan baru dialami oleh warga yang ada di daerah tersebut.
Hingga suatu malam pak Mitro pun menangis dengan derai air mata yang cukup memilukan. Pak Mitro sangat sedih dengan kondisi yang sedang dialami oleh sang istri. Sampai akhirnya pak Mitro pun terkulai lemas dan berbaring di samping ranjang tempat istrinya dirawat. Hingga beliau bermimpi bertemu dengan seorang anak kecil yang sangat kucel dan tidak rapih. Anak itu pun mengajak pak Mitro untuk bermain di suatu daerah yang sangat banyak ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi. Di balik pohon-pohon yang tinggi tersebut terdapat sebuah gua yang sangat gelap dan tercium bau amis di pintu masuknya. Anak kecil tersebut mengajak pak Mitro untuk memasuki gua tersebut, sambil terus menarik tangan pak Mitro dengan manjanya. Pak Mitro pun bertanya kepada anak kecil tersebut, “Mau dibawa kemana saya??”, tanya pak Mitro.
Anak kecil tersebut menjawab, “Ikut saja pak, pokoknya asyik bermain di dalam. Nanti saya perkenalkan sama sahabat saya yang baik hatinya.”
“Siapa sahabatmu itu?” tanya pak Mitro penasaran.
“Sudah ikut saja pak, pokoknya seru.”
Akhirnya pak Mitro pun mengikuti ajakan sang anak kecil tersebut. Masuklah pak Mitro ke dalam gua tersebut, walaupun dengan rasa takut yang mendera. Tiba-tiba anak itu menunjukkan sekumpulan burung kecil hitam dan memiliki buntut yang bercabang. Burung itu hinggap berkoloni di dinding gua, seperti burung walet bentuknya.
“Kenalkan pak ini sahabat saya, namanya Lelet, orang-orang sering menyebutnya walet.” Anak kecil itu memperkenalkan kepada pak Mitro.
“Lucu kan pak?!!” anak itu pun terus berceloteh.
Dengan gugupnya pak Mitro menjawab, “Iya lucu”.
Kemudian burung-burung tersebut terbang mengitari mereka berdua, seraya menyambut kedatangan pak Mitro dan anak kecil tersebut. Burung-burung tersebut berputar-putar cukup lama dan terlihat sangat rapi dan teratur. Tiba-tiba anak kecil tersebut menunjukkan sebongkah sarang yang menyerupai getah yang agak bening. Dengan tersenyum manis anak itu berkata, “Pak bawalah sarang ini untuk mengobati istri bapak yang sedang sakit. Siapa tahu bermanfaat. Bacakan doa dan mohonlah kepada Tuhan, semoga istri bapak segera sembuh dari sakitnya.”
“Iya nak, terimakasih atas petunjuknya,” jawab pak Mitro. Tiba-tiba anak tersebut menghilang dan pak Mitro pun terbangun dari tidurnya. Pak Mitro pun terkejut ketika melihat di sampingnya sudah ada sebongkah sarang yang sama persis dengan yang ada di dalam mimpinya. Dengan segera pak Mitro menyeduh sarang tersebut dengan air hangat, kemudian meminumkannya ke istrinya. Sungguh ajaib memang adanya, istri pak Mitro seketika langsung bisa terbangun dari baringannya kemudian berjalan sebagaimana mestinya. Sungguh senang sekali hati pak Mitro melihat istrinya mampu berjalan kembali.
Di lain hari pak Mitro pun sangat gembira menyambut burung-burung walet yang terbang di sekitar rumahnya. Ternyata di sekitar rumah pak Mitro banyak terdapat sarang burung walet. Sebagai bentuk rasa syukurnya atas telah diberi kesehatan istrinya, yang mana disebabkab oleh sarang burung walet. Kemudian pak Mitro pun membeli baju yang masih berwarna putih di pasar Kota yang ada jauh dari tempat tinggalnya. Karena kecintaannya oleh burung walet, maka pak Mitro pun memustuskan untuk mencari orang yang mampu menggambar burung walet di atas baju-baju tersebut. Setelah jadi baju yang bermotif walet tersebut, maka pak Mitro pun membagikannya secara geratis kepada siapa saja yang ditemukannya. Bahkan dikisahkan jumlah baju yang diberikan hingga ribuan jumlahnya.
Dari kisah tersebut dapat dijadikan rujukan bagi kita bahwa motif batik walet yang merupakan ciri khas Kota Metro tersebut terbentuk. Kita selaku generasi penerus yang akan selalu melestarikan ciri khas budaya masyarakat Kota Metro maka diwajibkan untuk mengembangkannya. Mari kita perkaya khasanah batik walet yang ada di Kota Metro dan kita perkenalkan ke masyarakat luas bahwa Kota Metro juga memiliki batik yang menjadi ciri khas masyarakatnya.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply