Ayo ke Kota Metro: PEMAKAMAN CINA TEJOAGUNG

Kota Metro merupakan kota yang komunal. Banyak komunitas-komunitas yang ada, salah satunya komunitas entik Tionghoa yang diperkirakan masuk ke Kota Metro mulai tahun 60-an. Salah satu situs sejarah yang masih ada sampai sekarang adalah Pemakaman Cina Tejoagung. Pemakaman ini merupakan pemakaman khusus etnik Tionghoa.
Memasuki Pemakaman ini maka suasana Tionghoa sangat kental terasa. Serasa di negeri Tirai Bambu yang ada huruf Cina-nya dan Vampire yang sangat terkenal. Hiiii…. memang si dirasa sedikit serem ketika memasuki area pemakaman. Di sinilah terasa sekali hiburan ala horor, sedikit serem. Di halam depan ada tumpukan tengkorak yang menurut cerita juru kunci Bapak Sunami, tengkorak tersebut adalah tengkorak asli orang yang dimakamkan pertama kali di tempat ini, namanya Yuan Hwa.
Setiap tempat kuburan memang diwarnai banyak ragam dan kisah misteri, hal tersebut sangat wajar karena kuburan adalah tempat istirahat terakhir untuk manusia. Meski demikian, kuburan adalah tempat paling ditakuti manusia.
Berbicara kuburan, tentu kuburan masyarakat Tionghoa memiliki keunikan tersendiri. Karena dari segi bangunannya, lebih luas dan besar dibandingkan dengan pemakaman pribumi pada umumnya yang sebagaimana dikutip dari banyak sumber.Bentuk bangunannya yang terkesan mewah, adalah sebagai sesuatu penanda kemapanan ekonomi dari keluarga keturunan yang lebih baik taraf kehidupannya di bumi persada ini. Seperti kuburan yang berada di wilayah Tejosari 24, Metro Timur, Lampung, ditengarai memiliki tingkat kewingitan yang tinggi.

Alasannya, karena di tempat ini sering terjadi penampakkan makhluk Astral. Banyak orang yang mengaku pernah bertemu dengan sosok wanita tua penghuni areal makam tersebut. Konon, dari kawasan ini juga kerap terdengar suara-suara aneh yang tak tentu dari mana sumbernya.

Terkadang sering ada kemunculan sosok wanita tua keturunan dengan pakaian khas kerajaan China kuno. Apabila sudah malam, terutama pada hujan hari, hampir dapat dipastikan orang yang melintas di sana akan bertemu dengan sosok nenek misterius itu. Terutama pada malam yang dikeramatkan menurut kepercayaan, seperti Jum’at Kliwon dan Selasa Legi. Kisah menyeramkan berkaitan dengan kuburan ini pernah dialami seorang narasumber. Ketika itu dia menjalankan profesi sebagai tukang becak. Suatu malam, dia pernah diminta oleh seorang nenek untuk mengantarkannya ke sebuah rumah basar dan megah yang belakangan diketahui adalah kuburan China di wilayah kota pendidikan ini.

Menurut ceritanya, sosok nenek itu membawa dua peti besi yang berisikan perhiasan emas. Karena mendapat tawaran mengantar ke rumah, maka tanpa curiga dia pun bersedia memenuhi keinginan sang nenek. Setibanya di rumah, ia menyaksikan 6 anggota keluarga si nenek yang misterius juga berada di dalam rumah besar itu. mereka sedang bercengkerama di ruang tamu. Salah seorang pemuda yang diduga anggota keluarga nenek itu, mengangkat 2 peti emas, lalu dibawanya masuk kedalam rumah. Si tukang becak sempat beristirahat sejenak, sambil mengusap keringat di wajahnya dengan handuk kecil yang selalu menemaninya saat mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Dia disuguhi kopi dan kue oleh salah seorang pembantu nenek aneh itu. Tanpa ada perasaan curiga, dia pun menikmati kopi pahit dan kue yang telah dihidangkan di hadapannya.

Si tukang becak memang sama sekali tak mengerti dengan bahasa Mandarin yang keluar dari mulut mereka dalam percakapan saat itu. Setelah menghabiskan kopinya, dia pun berpamitan pulang kepada nenek misterius itu. Karena si nenek tak memiliki sejumlah uang sesuai tarif becaknya, maka dia kemudian memberikan perhiasan emas berupa cincin seberat 500 gram dan batangan emas bergambar naga seberat 2 kg. Si tukang becak pada awalnya memang tidak mengetahui barang-barang berharga ini, sebab masih terbungkus kain. Nenek misterius itu mengucapkan terima kasih atas bantuan yang ia diberikan, seraya berpesan agar pemberiannya yang dibungkus dengan kain itu baru boleh dibuka setiba di rumah nanti. “Ingat, gunakan untuk mendirikan toko atau usaha!” Pesan si nenek pula. Dengan senang hati, Si tukang becak menerima pemberian sang nenek. dia lalu meninggalkan rumah besar itu dengan becaknya menembus kegelapan malam yang berhawa dingin. Ia menuruti pesan yang disampaikan oleh sang nenek. benar, setibanya dirumah, dengan rasa was-was dan sangat berhati-hati, perlahan-lahan dia membuka bungkusan kain putih itu.

Alangkah terkejutnya pengayun becak ini, manakala dia menyaksikan kalau bungkusan itu berisi perhiasan emas dan juga emas batangan yang cukup lumayan beratnya. Tentu mahal nilai jualnya.

Malam itu, Si tukang becak sangat tak sabar menanti datangnya siang. Seolah, malam itu, terasa sangat panjang. Tanpa pikir panjang, keesokan harinya, ia pun mendatangi penjual emas untuk menjual emas pemberian si nenek misterius. Setelah diperiksa secara seksama, ternyata adalah emas murni. Dengan demikian, Si tukang becak mendapatkan uang yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Suatu jumlah yang sangat besar untuk ukuran tukang becak seperti dirinya.

Dalam keriangannya. Ia meninggalkan toko emas itu sambil berlari pulang dan berteriak sekeras-kerasnya. “Aku akan jadi kaya raya!” Bahkan dia tak menghiraukan becaknya lagi, Karuan, hal ini membuat teman-temannya sesama tukang becak, yang sedang mangkal merasa keheranan atas kejadian itu. Mereka berpikir, kalau dia stress berat dan gila karena beban penderitaan hidupnya yang sangat miskin. Istri dan anak-anaknya sama sekali tak mengetahui kejadian ganjil ini, karena dia memang merahasiakannya. Bahkan keluarga besar dari pihak istrinya, sempat curiga dengan tingkah laku dia. Mereka berpendapat, jangan-jangan ia telah melakukan perampokkan di suatu kawasan perumahan elit milik warga Tionghua. Setelah mendapat penjelasan sejujur-jujurnya, akhirnya mereka dapat menerima alasan yang dibeberkan oleh Si tukang becak atas peristiwa misteri yang dialaminya.

Sesuai dengan pesan nenek tua itu, uang dari hasil penjualan emas itu, dia pergunakan untuk mendirikan toko sebagai usaha untuk menopang kehidupannya. Toko yang dibangun olehnya sangat ramai dipadati oleh para pembeli. Hingga akhirnya dia menjadi kaya raya mendadak, Alhasil, dia mampu membangun rumah megah di kawasan Langkapura, Bandar Lampung. Demikianlah kisah nyata yang dialami oleh Si tukang becak. Kisah tersebut terjadi sekitar 1990-an.

Tentu sudah lama sekali. Namun, masih mengenang peristiwa itu dengan jernih. Sebab dari sanalah kehidupannya berubah. Menurut cerita yang beredar, baru bisa diketahui, sosok misterius itu adalah arwah yang bernama Yuan Hwa. Semasa hidupnya nenek yang bernama Yuan Hwa dan keluarganya adalah warga Tionghua yang sangat miskin itu hidup di kota Timah Muntok, Pulau Bangka. karena dibantu keuangan oleh tetangganya yang sama-sama warga keturunan, akhirnya mereka mampu merubah hidupnya menjadi saudagar sukses. Setelah beberapa tahun berselang, mereka hijrah ke Tanjung Karang, Bandar Lampung. Dan terakhir membuka toko emas dan tinggal di Kota Metro. Namun, kemalangan tak dapat ditolak, saat kendaraan yang mereka tumpangi menuju Tanjung Karang terbalik dan masuk ke sungai di bawah jembatan penyeberangan Tegineneng, Lampung Selatan.

Kecelakaan itu menewaskan Yuan Hwa sekeluarganya. Peristiwa itu terjadi pada Desember 1973 silam. Jasad mereka dimakamkan di areal pemakaman kuburan China, yang terletak di kawasan Tejosari 24, Metro Timur, Lampung. Semenjak peristiwa tersebut, penampakkan sosok nenek misterius sering terjadi di sekitar makam itu. Konon, karena semasa hidupnya pernah ditolong oleh sahabat Tionghua tetangganya, maka, meskipun kini sudah menjadi arwah sosok nenek ini masih tetap sering membantu kepada seseorang yang sangat membutuhkan bantuan. Terutama mereka yang kurang mampu.
Itulah cerita tentang nenek Yuan Hwa. Di lain cerita, menurut juru kunci pemakaman di sisi utara pemakaman juga ada pemakaman orang-orang yang diduga PKI (Partai Komunis Indonesia). Diperkiraan jumlah korbannya ada ribuan orang. Menurut juru kunci cara memakamkannya pun tidak manusiawi, yaitu hanya dikubur sedalam 50 cm tanpa dikafani dan hanya ditumpuk-tumpuk saja tanpa ada kesan rapi sama sekali. Hal ini menambah seram dan horor tempat pemakaman ini.

Gimana kawan-kawan??! Serukan cerita tentang Pemakaman Cina Tejoagung. Ayo buruan ke Kota Metro ada tempat seru buat liburan. Tempatnya sekitar 3 km dari pusat kota ke arah selatan di Jalan Jendral Ahmad Yani. Dari terminal induk Kota Metro bisa menggunakan angkot berwarna merah jurusan Sekampung-Batanghari. Mudahkan??! Jika masih bingung kontak saja di kontak redaksi iqrometro.co.id. Nanti diantar geratis tanpa dipungut biaya. Ayo buruan ke Kota Metro yang semakin seru.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply